SMAN Terbuka 1 Sakra, Selenggarakan Ujian Semester Ganjil TP. 2023-2024 di TKB Sepit
Oleh : Muhammad Sulhan Hadi
Sepit, (desasepit.web.id).,- Puluhan siswa SMA Terbuka di Tempat Kegiatan Belajar (TKB) Desa Sepit mengikuti ujian smester ganjil TP 2023/2024. Ini menandakan bahwa KBM berjalan lancar di bawah pengelolaan SMAN terbuka 1 Sakra yang sudah berjalan 2 tahun meskipun bersifat fleksibel.
Dari antauan Pewarta desasepit.web.id Kamis, (30/11/2023) mulai sore hari bakda ashar, terlihat puluhan siswa di bawah asuhan di TKB Sepit bersadatangan untuk mengikuti ujian smester berdasarkan jadwal tahapan belajar mengajar.
Para siswa siswi SMAN Terbuka 1 Sakra disuruh datang ke TKB Sepit untuk mengikuti tahapan evaluasi yaitu semester Ganjil Tahun Pelajaran (TP) 2023-2024. Demikian disampaikan Jumnur Nune, salah seorang guru yang mengawasi pelaksanaan evaluasi enam-bulanan tersebut.
Suasana pelaksanaan Ujian Semester Ganjil SMAN Terbuka 1 Sakra
Lebih jauh Jumnur menyampaikan, siswa yang datang di Aula Perpustakaan Desa Sepit ini akan mengikuti pelaksanaan evaluasi belajar yaitu semester Ganjil. "Sore ini kita semesteran." jelasnya.
Sekdes Sepit Muhammad Sulhan Hadi sekaligus pengelola TKB meminta konfirmasi kepada operator data siswa SMAN Terbuka 1 Sakra terkait jumlah siswa di masing-masing kelas. Dari data yang diperoleh dari Muhammad Zainul Efendi, TKB Sepit memiliki siswa masing-masing dari kelas X 32 orang, kelas XI 36 orang dan XII sebanyak 41 orang.
Menurutnya untuk tahun pelajaran 2023-2024, TKB Sepit akan menamatkan sekitar 41 siswa yang nanti akan mengikuti proses Ujian. "Ujian kelas XII insyaallah kita laksanakan di TKB Sepit pada akhir tahun pelajaran nanti." terangnya.
Untuk diketahui, program SMA Terbuka merupakan sebuah terobosan pemerintah dalam upaya pemerataan pendidikan yang menyasar anak-anak tamatan SMP/sederajat dan Paket B yang tidak melanjutkan pendidikan ke tingkatan selanjutnya.
Hal ini dikarenakan para remaja putus sekolah tersebut mengalami kendala sosial, seperti letak geografis yang menyulitkan mereka untuk mengikuti pendidikan di sekolah reguler terutama akibat karena berdomisili daerahnya terpencil dan terkendala transportasi.
Tak hanya itu, faktor sosial ekonomi keluarga yang lemah, menyebabkan terbatasnya waktu karena harus bekerja membantu orang tua mencari nafkah untuk mencukupi keperluan hidupnya sendiri, atau bahkan karena menikah di usia dini, sehingga tidak memungkinkan mereka untuk belajar di sekolah reguler.