Tampil di Podcast KT Mercusuar, Kadikes Lotim Bahas Tuntas Cacar Monyet
Pewarta : Muhammad Hardi Putrawan
Sepit, (desasepit.web.id):- Tim Podcast Karang Taruna (KT) Mercusuar kedatangan tamu istimewa untuk ke sekian kalinya. Pada Senin malam, 6 November 2023 tamu istimewa itu adalah Kepala Dinas Kesehatan (Kadikes) Kabupaten Lombok Timur, Dr. Pathurrahman. Dirinya sengaja datang khusus untuk membahas penyakit yang akhir-akhir ini tengah menjadi pembahasan di media masa, yakni cacar monyet.
Pada kesempatan itu, Dr. Pathurrahman memaparkan mulai dari sejarah sampai dengan pencegahan yang bisa dilakukan untuk bisa terhindar dari penyakit cacar monyet itu. Dikatakan, awal mula munculnya dan sampai dinamakan cacar monyet karena muncul pertama kalinya dari monyet yang dijadikan sebagai objek penelitian di negara Denmark pada tahun 1958 silam. Cacar monyet sendiri merupakan virus, spesifiknya bernama henus ortopok virus.
Orang Juga Melihat : NGOBROL BERSAMA PENJABAT BUPATI LOMBOK TIMUR | 3 FOKUS KEBIJAKAN PUBLIK
Yuk Isi Kuisoner Penilaian Kepuasan Masyarakat Untuk Pelayanan Pemerintah Desa Sepit, Klik Disini Untuk Mengisi.
Baru pada tahun 1970 pertama kali ditemukan kasus yang menjangkit manusia. Waktu itu menjangkit seorang anak sembilan tahun di negara Republik Demokratik Kongo. "Pada tahun 2016 dilaporkan ada kasus menjangkit di negara Afrika, Nigeria, dan Syiria. Pada tahun 2018, ditemukan juga di negara Israel, Singapor, dan united Kingdom (UK) atau yang lazim diketahui bernama Inggris," papar Kadikes Lotim ini mengutip beberapa data.
Selanjutnya pada tahun 2021 dilaporkan menjangkit negara Amerika Serikat yang ditengarai karena dibawa oleh mobilitas manusia dari negara Nigeria. Berdasarkan data laporan yang terkumpul sebanyak 75 negara di dunia yang terjangkit dengan cacar monyet itu, sehingga sejak saat itu lembaga yang berada di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yakni World Health Organisation (WHO) memberikan perhatian serius dengan menetapkannya sebagai Darurat Kesehatan Global.
Di Indonesia sendiri per 3 November 2023 yang lalu ditemukan kasus cacar monyet ini sebanyak 33 kasus dengan penyebaran 26 kasus di DKI Jakarta, 5 kasus di Banten. Dan 2 kasus di Jawa Barat. Syukurnya dari 33 kasus tersebut sampai hari ini 3 kasus sudah yang berhasil disembuhkan.
Lebih jauh lagi, Doktor jurusan epidemologi ini menjabarkan dari kasus tersebut yang kenak adalah dari umur 25 sampai dengan 39 tahun. Adapun yang rentan kenak itu berdasarkan hasil pemeriksaan adalah mereka yang mengidap penyakit virus HIV dengan spesifiknya spilis.
Ia pun mengungkapkan berdasarkan jurnal penelitian di Amerika serikat, sebanyak 1.195 kasus yang ada, 94 persen dari semua itu yang kenak adalah orang yang pernah kontak seks dengan sesama jenis, terutama yang homo seksual. "Masa inkubasi virus ini selama 3 minggu, dia bisa kenak 3 minggu setelah berhubungan intim," sebutnya.
Adapun gejala dari virus cacar monyet ini ia sebutkan mulai dari demam tinggi, terus sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, baru kemudian muncul bintil-bintil itu yang biasanya muncul di selangkangan, lipatan-lipatan tubuh, dan menyebar ke muka dan ke bagian tubuh lainnya. Dari bintil yang awalnya menggandung air itu berubah menjadi darah, dan berubah lagi menjadi nanah, dan rasanya sakit sekali. Efek buruknya bisa mengalami kematian jika tidak ditangani dengan serius. Meskipun bisa sembuh dengan sendirinya, tapi kecil kemungkinan jika tidak ditangani dengan tepat.
Penularan dari cacar monyet ini sendiri bisa melalui dua tempat, yakni melalui hewan ke manusia, dan melalui manusia ke manusia.
Penularan melalui hewan ke manusia bisa terkena jika hewan tersebut terjangkit virus ortopox itu dan kontak langsung dengan manusia. Misalnya air liurnya hewan itu mengenai kulit atau bagian tubuh orang itu. Sedangkan penularan melalui manusia ke manusia lainnya bisa terkena melalui air liur atau droplet pengidap, bisa juga melalui handuk dan sprei pengidapnya. Sehingga sebetulnya yang paling berpotensi terjangkit pertama itu adalah tenaga kesehatan (Nakes) yang merawat pasien pengidap, karenanya Dr. Pathurrahman mengatakan pasien pengidap harus diisolasi dan nakes harua menggunakan Alat Pelindung diri (APD) yang aman. Selain itu penularan juga bisa menjangkit dari plasenta ibu hamil ke bayi yang ada di dalam kandungannya.
Untuk pencegahan, dirinya menyarankan untuk tidak kontak langsung dengan hewan yang ada ortopok virusnya dan menghindari kontak langsung dengan pengidap. (*)
Baca Juga :