Pewarta : Muhammad Zainuddin
Sepit,- (desasepit.web.id)- Beberapa minggu terakhir, minyak goreng menjadi "primadona". Bak kisah Putri Mandalika yang diperebutkan banyak pangeran, minyak goreng pun demikian. Kini minyak goreng sudah menjadi barang dengan nilai tinggi, yang langka, dan "mewah".
Bayangkan saja, begitu ada informasi minyak goreng tersedia di toko swalayan, detik itupun langsung ludes. Bahkan beberapa kali pewarta Desa Sepit menanyakan ketersedian minyak goreng di toko-toko terdekat, pedagang cukup memberikan isyarat geleng kepala. Yang menandakan minyak goreng tidak ada.
Pemadangan lainnya, di salah satu toko di Desa Sepit, terlihat masyarakat sudah mengantri menunggu minyak goreng.
Inaq Saipul Adnan salah satu warga yang mengantri mengaku, rela mengantri sedari pagi demi mendapatkan minyak goreng. Ia mengaku datang lebih pagi supaya lebih mudah mendapatkan minyak goreng.
"Lamun te dateng telat jak ndrak mauk te (kalau datang terlambat tidak dapat, red)," ujarnya.
Kelangkaan minyak goreng di sejumlah wilayah termasuk di Desa Sepit saat ini, adalah bukti nyata upaya pemerintah belum maksimal. Jauh panggang dari api, kebijakan yang diambil pemerinrah masih banyak masyarakat yang kecewa. Dikarenakan belum merasakan dampak kebijakan tersebut.
Keterangan Foto : Stok minyak di salah satu mini market di desa Sepit terlihat kosong
Ivan, penunggu toko Moga Sukses mengatakan ketersedian stok minyak goreng beberapa hari terakhir memang terbatas. Selain karena kebutuhan, diakunya banyak juga masyarakat yang melakukan punic buying yang membuat distribusi minyak goreng tidak merata.
Ia berharap, masyarakat mengerti dengan kondisi sekarang ini. "Semoga masyarakat memahami kondisi sekitar, karena yang lain juga sama-sama perlu," terangnya.
Kini persoalan minyak goreng tidak hanya soal harga yang melambung tinggi. Namun juga stok yang mulai langka dipasaran. Ada apa dengan minyak goreng. (*)